Polwan Cantik Nyambi Jadi Tambal Ban - WIKIPEDIA POLISI

Breaking

WIKIPEDIA POLISI

BLOGGER POLRI HALO DUNIA NETWORK

Post Top Ad

Post Top Ad

Saturday, July 22, 2017

Polwan Cantik Nyambi Jadi Tambal Ban



Gadis cantik ini bernama Bripda Eka Yuli Andini. Saat ini Ia tercatat sebagai salah satu anggota Polres Salatiga Jawa Tengah. Meskipun sudah jadi POLWAN, Eka tak lantas meninggalkan kegiatan lamanya sebagai tukang tambal ban motor. Anggota POLRI ini menganggap bengkel tambal ban milik ayahnya ini sangat berjasa baginya.
Bripda Eka Yuli Andini Polwan Tukang Tambal Ban
Gadis kelahiran 30 Juli 1996 ini merupakan putri Pak Sabirin dan Ibu Darwanti yang saat ini tinggal di rumah kontrakan yang tak luas di Jalan Veteran Salatiga. Meski dalam kondisi yang serba terbatas, Kedua orang tua Eka sangat berharap kelak putri jadi orang sukses.
Di rumah kontrakan ini ayahnya membuka bengkel tambal ban. Eka yang sejak kecil rajin membantu ayahnya, ia pun secara otomatis bisa menguasai bongkar pasang ban motor dan makin akrab dengan bermacam perkakas bengkel.
Bripda Eka Yuli Andini Polwan nyambi Tukang Tambal Ban
Ketika masih sekolah di SMK Negeri 2 Salatiga, Eka sangat menyadari kondisi Orang tuanya yang bukan katagori orang berduit. Bahkan pekerjaan mapan saja tak dimiliki orang tuanya. Usaha tambal ban inilah yang menjadi sumber penghasilan untuk biaya hidup sehari-hari.
Sebagai anak yang berbakti, eka rela “mewakafkan” diri dan waktunya untuk bisa membantu orang tua. Dengan harapan bisa meringankan beban orang tuanya, Remaja cantik berwajah polos ini lebih memilih berkutat di bengkel dari pada bermain bersama teman sebayanya.
Apalagi penyakit gangguan paru- paru yang di derita sang ayah sering kambuh. Eka pun langsung mengambil alih pekerjaan saat ayahnya beristirahat sakit. Jika ada orang menambal ban, tanpa malu tanpa merasa risi, tangan lembutnya segera beraksi. Dan imbalannya hanya lima ribu rupiah saja.
Ayah Bripda Eka Yuli Andini Polwan nyambi Tukang Tambal Ban
Lebih dari lima tahun Eka harus menggantikan pekerjaan sang ayah menjadi tukang tambal ban. Semua urusan bengkel dia yang tangani, apalagi setelah ayahnya dinyatakan mengidap penyakit kanker paru-paru. Sementara sang adik laki-lakinya Arjuna Dwi Bagaskara saat itu masih duduk dibangku SD atau berusia 15 tahun. Aktifitas ini dia jalani sampai ia merampungkan sekolahnya di SMK.
Setelah lulus SMK, Eka harus mengambil “cuti” untuk beberapa bulan dari kegiatannya menambal ban. Pasalnya, Eka diterima menjadi polisi wanita (Polwan) yang di awal karirnya wajib mengikuti pendidikan calon bintara polisi.
Cerita Eka yang lolos sebagai aparat penegak hukum ini menjadi hal yang cukup menarik untuk disimak. Berangkat dari coba-coba ikut daftar, akhirnya Eka berhasil lolos seleksi bahkan meraih peringkat terbaik.
Peringkat 7
Sejak masih duduk di bangku SMK, Eka sangat berkeinginan untuk bisa bekerja di dunia broadcasting. Hal ini wajar karena jurusan yang dia ambil adalah Teknik Komputer dan Jaringan di SMK Negeri 2 Salatiga. Namun sayang, cita- cita Eka harus dia tanggalkan sementara ketika Ia mendengar ada sosialisasi penerimaan anggota bintara polisi. Yang disitu dijelaskan mulai pendaftaran sampai penerimaan calon bintara polisi dijanjikan gratis alias tak ada biaya apapun.
Polwan Cantik tukang Tambal Ban
Sosialisasi itu sontak membuat hatinya terpikat. Bukan apa-apa, selain ia ingin segera dapat pekerjaan, Eka pun ingin membuktikan kebenaran janji gratis dari sosialisasi tersebut. Yang menjadi kendala dirinya adalah tinggi badannya yang hanya 156 cm. Karena yang Ia tahu selama ini, untuk menjadi Polwan tingginya harus di atas 160 cm.
Rasa minder yang singgah di dada Eka tak berahan lama. Pasalnya salah seorang guru SMK nya terus mendorong dan memberikan semangat pada Eka untuk mencoba mendaftar. Motivasi dari sang guru rupanya memacu Eka untuk mendaftar.
Bersama dengan 20 orang temannya SMK, Eka akhirnya mendaftarkan diri. Ia pun semakin bersemangat apalagi setelah tahu kedua orang tuanya sangat mendukung langkahnya. Proses seleksi yang sangat ketat, Eka pun berhasil menyelesaikan. Dan hasilnya…? hanya ada dua dari 20 temannya yang lolos seleksi dan dinyatakan diterima. Salah satunya adalah Eka Yuli Andini yang tak lain adalah dirinya sendiri.
Eka yang sudah terbiasa kerja keras dan hidup serba prihatin sangat tampak pada kemandiriannya saat mengikuti pendidikan. Dengan sangat disiplin Ia tak kaget ketika harus bangun pagi-pagi, sholat dan terus mengikuti rangkaian kegiatan di Pusdik. Hal ini sangat wajar karena Eka sudah sangat terbiasa menjalani rutinitas tersebut.
Dari 7000 calon Polwan di seluruh Indonesia, Eka dinyatakan menempati peringkat 7 sebagai siswa calon bintara terbaik. Ini semua buah dari tempaan hidup yang ia jalani selama ini.
Mendadak Jadi Selebritis
Dilantik menjadi Polisi Wanita (Polwan) berpangkat brigadir dua, Eka mengemban tugas di Polres Salatiga yang tak jauh dari rumahnya. Selama berdinas, Eka harus menjalankan tugas layaknya seorang anggota kepolisian. Eka masuk unit patroli bermotor bersama rekan Polwan lainnya atau disebut unit patroli Srikandi.
Tubuh kecil Eka dengan seragam polisinya nampak mengundang perhatian banyak wartawan. Apalagi setelah diketahui dia juga masih bekerja sebagai tukang tambal ban sepulang dinas. Latar belakang keluarga Eka yang boleh dibilang mendekati garis kemiskinan, rupanya sangat menarik untuk diulas sebagai insirasi bagi yang lain.
Perjalanan hidup Eka yang banyak jadi perbincangan media, menjadikan diri Eka sebagai selebritis dadakan. Sontak dalam hitungan hari namanya langsung melambung. Bahkan, ada beberapa stasiun TV swasta nasional mengundangnya untuk acara reality show.
Meskipun begitu, Eka tetaplah sosok low profile. Publikasi media yang seakan mengelu-elukan jati dirinya, tak lantas membuatnya berubah. Tugas rutin, baik sebagai anggota Polwan maupun sebagai tukang tambal ban tetap dilakoninya. Tidak sesuatu yang spesial baginya, semua berjalan sebagaimana biasa.
Tanda pangkat yang tersemat di pundaknya saat mengenakan seragam Polri tidak menjadikan Eka berubah menjadi gadis yang manja. Dia sangat paham akan kondisi Orang tuanya yang sangat membutuhkan tenaganya. Terlebih setelah Ia mengambil “cuti” lumayan lama untuk pendidikan Polwan. maka dari itu sepulang dinas, tanpa pikir ini itu, dia pun tetap nyambi bantu ayahnya menjadi tukang tambal ban. Kadang, ketika “bertugas” menambal ban, kaos warna cokelat masih dikenakannya.
Eka Ingin Membelikan Rumah Orang Tuanya
Tak ada kata malu bagi Eka untuk nyambi sebagai penenambal ban di pinggir jalan. Baginya yang terpenting adalah pekerjaannya halal. Kedewasaannya dalam bersikap mendorong Eka untuk mulai menata kebutuhan hidup di waktu yang akan datang. Mulai dari renncana kuliah, hidup lebih mapan dan hal penting yang menjadi PR nya adalah dia ingin sekali mewujudkan rasa terimakasihnya kepada orang tua dengan membelikan rumah baginya. Tak mungkin selamanya menjadi kontraktor terus alias ngontrak sana-sini. Apalagi rumah kontrakannya saat ini hanya berukuran 6×6 meter.
Namun keinginannya untuk membelikan hadiah rumah bagi kedua orang tuanya ini harus ditunda sesaat. Sebab, gajinya saat ini belum cukup untuk mewudtkan cita-cita mulianya. Eka sangat yakin, akan dapat merealisasikannya suatu hari nanti. Selain rumah untuk orang tuanya, ada satu keinginan lagi yang mengganjal di benaknya. Yaitu Eka sangat ingin orang tuanya dapat menunaikan ibadah haji. Terlebih ayahnya disela-sela mencari nafkah, setiap hari juga aktif di salah satu masjid dekat rumahnya untuk menjaga kebersihan mesjid.
SaveSaveSaveSave

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad